wakafasykur.org

Surah An Naas Ayat Keenam Bacaan,Tafsir dan Asbabun Nuzul

 

Ingin Promonya ? Klik Gambarnya !
Ingin Promonya ? Klik Gambarnya !

Tafsir Quran Surat An Nas Ayat Keenam

مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

“Dari (golongan) jin dan manusia.” (Surat An-Naas: 6)
  • Kata min (من) dalam ayat ini bermakna sebagian. Karena memang sebagian manusia dan jin melakukan bisikan-bisikan negatif, tidak semuanya. Allah mengabadikan ucapan jin dalam Surat Al Jinn ayat 11:
وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا
  • “Dan sesungguhnya di antara kami ada yang shalih-shalih dan ada juga di antara kami yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al Jin: 11)
  • Ada pula yang berpendapat min di ayat ini berfungsi menjelaskan sehingga artinya adalah yaitu.
  • Kata al jinnah (الجنة) adalah bentuk jamak dari jinny (الجني) yang ditandai dengan ta’ marbuthah untuk menunjukkan bentuk jamak muannats. Kata jinn berasal dari akar kata janana (جنن) yang berarti tertutup atau tidak terlihat. Anak yang masih dalam kandungan disebut janin karena ia tidak terlihat. Surga dan hutan yang lebat disebut jannah karena mata tidak dapat menembusnya. Dinamai jin karena ia makhluk halus yang tidak terlihat.
  • Seluruh makhluk yang menggoda dan mengajak kepada kemaksiatan disebut setan, baik dari jenis jin maupun manusia. Setan jin tersembunyi tapi setan manusia tampak.
  • Abu Dzar Al Ghifari pernah ditanya seseorang, “apakah ada setan manusia?” Ia pun menjawab ada lalu membaca firmanNya:
  • “Dan demikian itu, Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk memperdaya.” (QS. Al An’am: 112)
  • Ibnu Katsir menjelaskan, Surat An Nas ayat 6 merupakan tafsir dari Surat An Nas ayat 5. Sebagaimana pengertian setan dalam Surat Al An’am ayat 112 tersebut.
  • Sayyid Qutb menjelaskan, bisikan jin tidak dapat diketahui bagaimana terjadinya. Namun dapat dijumpai bekas-bekas pengaruhnya dalam realitas jiwa dan kehidupan.
  • “Adapun mengenai manusia, kita mengetahui banyak tentang bisikan mereka,” lanjutnya dalam Tafsir Fi Zilalil Quran. “Kita mengetahui pula bahwa di antara bisikannya itu ada yang lebih berat daripada bisikan setan jin.”
  • Beliau kemudian mencontohkan teman yang membisikkan kejahatan kepada temannya. Ajudan atau penasehat yang membisikkan kepada penguasa. Provokator yang memprovokasi dengan kata-katanya. Penjaja syahwat yang menghembuskan bisikan melalui insting. Dan bermacam pembisik lain yang menggodan dan menjerumuskan sesama manusia.
  • Ada dua tafsiran dikalangan para ulama tentang yang dimaksudkan dengan jin dan manusia pada ayat ini.
  • Tafsiran pertama, kata jin dan manusia tersebut kembali kepada pembisik-pembisik yaitu para penggoda (yang tersebut pada ayat keempat), bahwasanya yang membisik-bisik ada dari golongan jin dan ada pula dari golongan manusia. Manusia berbicara langsung, sedangkan jin masuk ke dalam dada kadang tanpa disadari.
  • Karena syaitan bisa dari kalangan jin dan manusia. Allah berfirman :
    وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
    Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS Al-An’aam : 112)
  • Tafsiran kedua, kata jin dan manusia tersebut kembali kepada yang dibisikkan (yang digoda) sebagaimana pada ayat kelima. Namun pada ayat kelima tersebut yang disebutkan hanya manusia yang digoda karena kebanyakan yang digoda adalah manusia, tetapi yang dimaksudkan adalah keduanya karena jin dan manusia sama-sama mendapat beban syariat. Sebagaimana manusia dibisikkan oleh manusia yang buruk, maka jin yang baik juga di bisikkan/digoda oleh jin yang buruk, itulah syaithan.
  • Ini juga menjelaskan perbedaan antara Iblis, syaitan, dan jin.
  • Jin lebih umum mencakup Iblis, jin yang baik, dan jin yang jahat. Hanya Iblislah yang diberi umur panjang oleh Allah untuk menggoda manusia, tidak mati hingga hari kiamat. Adapun jin yang lain tidaklah demikian. Adapun syaitan maka itu adalah sifat yang buruk, jin yang buruk disebut syaitan, dan demikian juga manusia yang buruk juga disebut syaitan.

Referensi Kitab

Buku kecil ini adalah kumpulan penjelasan dan tafsir para ulama terkait dengan Surat An Nas, diambil dari kitab-kitab tafsir klasik hingga kontemporer. Disusun untuk memudahkan kita menelusuri makna Surah An-Naas dengan lebih jernih, bertahap, dan sistematis tanpa kehilangan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya.
Setiap ulasan dalam buku ini berpijak pada penjelasan para ulama terpercaya, agar kita tidak sekadar membaca lafaz-Nya, tetapi juga mampu menyelami makna perlindungan agung yang Allah ajarkan, sekaligus memahami tipu daya yang seringkali menyusup secara halus ke dalam jiwa manusia.
Berikut adalah kitab-kitab tafsir utama yang menjadi acuan dalam penyusunan buku ini, disusun berdasarkan urutan waktu dari yang paling klasik hingga kontemporer:   
  • Tafsir at-Thabari (جامع البيان عن تأويل آي القرآن) karya Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari
  • Tafsir al-Baghawi (معالم التنزيل) karya Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi
  • Tafsir al-Qurthubi (الجامع لأحكام القرآن) karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi
  • Tafsir Ibnu Katsir (تفسير القرآن العظيم) karya Ismail bin Umar bin Katsir
  • Tafsir Taysir al-Rahman(تيسير الرحمن في تفسير كلام المنان) – karya Syaikh Abdurrahman as-Sa’di
  • Fi Zhilalil Qur’an (في ظلال القرآن) karya Sayyid Quthb
  • Tafsir al-Azhar – karya Buya Hamka
  • Tafsir al-Munir (التفسير المنير) karya Wahbah az-Zuhaili
  • Tafsir al-Mishbah karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Semoga buku ini menjadi pengantar kecil untuk tadabbur yang lebih luas, dan langkah awal untuk semakin mencintai Al-Qur’an serta penjaga hati dalam menghadapi bisikan dunia yang tak henti menghampiri.

Penutup

Surah An-Naas hadir sebagai penutup Al-Qur’an, namun bukan akhir dari perjalanan. Justru di sinilah manusia diajak untuk memulai kembali—dengan kesadaran bahwa hidup ini penuh bisikan, dan tidak semua bisikan layak diikuti.
Setiap ayat dalam surah ini adalah undangan untuk berlindung. Bukan sekadar permohonan lisan, tapi penyerahan total kepada Allah sebagai Rabb, sebagai Raja, dan sebagai Ilah seluruh manusia. Tiga sifat yang menjadi poros perlindungan, saat dunia semakin bising dan hati semakin mudah goyah.
Setan tidak selalu datang dalam rupa yang menyeramkan. Terkadang ia berbisik lewat rasa takut yang tak beralasan, melalui prasangka yang dibiarkan tumbuh, lewat godaan halus yang membungkus maksiat dalam kemasan yang indah. Sebagian datang dari jin, sebagian lain dari sesama manusia.
Maka Surah An-Naas bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dihayati. Karena di dalamnya, ada penjagaan, ada peringatan, dan ada pelita. Sebuah pelindung jiwa, agar manusia tidak mudah terseret oleh bisikan yang menyesatkan, dan tetap teguh di jalan yang lurus.
Semoga buku ini menjadi pengantar kecil bagi perjalanan tadabbur yang lebih luas dan dalam. Menjadi wasilah untuk semakin mencintai Al-Qur’an, serta menjadi penjaga hati dalam menghadapi bisikan dan godaan dunia yang tak pernah berhenti menghampiri.
اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا، ونور صدورنا، وجلاء أحزاننا، وذهاب همومنا وغمومنا. آمين
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai musim semi bagi hati kami, cahaya bagi dada kami, penghapus kesedihan kami, dan penghilang kecemasan dan kegundahan kami.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top