Daftar Isi



Tafsir Surah An-Nas: Pelindung Jiwa dari Bisikan Dusta
Saudaraku para pencari ilmu, marilah kita bersama-sama menukik dalam-dalam ke samudra makna Surah An-Nas, surah penutup dalam mushaf Al-Qur’an yang agung. Surah ini terdiri dari enam ayat, dan namanya, “An-Nas,” yang berarti “manusia,” diambil dari ayat pertamanya. Ia juga dikenal sebagai surah Qul a’udzu birabbin naas.
Bersama Surah Al-Falaq, keduanya masyhur dengan sebutan Al-Mu’awwidzatain, yakni dua surah yang menuntun pembacanya menuju tempat perlindungan yang hakiki. Al-Falaq disebut al mu’awwidzah al ‘ula, sedangkan An-Nas adalah al mu’awwidzah ats tsaaniyah.
Tak hanya itu, Al-Qurthubi juga menjuluki keduanya sebagai Al-Muqasyqisyatain, yang berarti dua surah yang membebaskan manusia dari kemunafikan.
Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat) dan Konteks Penurunan
Untuk memahami lebih dalam urgensi Surah An-Nas, penting bagi kita untuk menilik asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya, yang menjadi landasan bagi pemahaman yang komprehensif.
Terdapat dua pendapat utama mengenai periode turunnya surah ini, masing-masing dengan riwayat asbabun nuzul tersendiri:
Pendapat Makkiyah: Mayoritas ulama, seperti Hasan, Atha’, Ikrimah, dan Jabir, berpendapat bahwa Surah An-Nas adalah surah Makkiyah, yang turun di Mekkah. Asbabun nuzul yang menjadi tumpuan pendapat ini adalah upaya kafir Quraisy Mekkah untuk mencederai Rasulullah SAW dengan ‘ain (pandangan mata yang merusak atau membinasakan). Allah kemudian menurunkan dan mengajarkan Surah Al-Falaq dan An-Nas ini kepada Rasulullah untuk menangkalnya. Sebagian ulama bahkan lebih detil menyebut Surah An-Nas sebagai surah ke-21 yang turun kepada Rasulullah dari segi tertib turunnya, yakni sesudah Surah Al-Falaq dan sebelum Surah Al-Ikhlas.
Pendapat Madaniyah: Sebagian ulama lain, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas dan Qatadah, berpendapat bahwa Surah An-Nas adalah surah Madaniyah, yang turun di Madinah. Asbabun nuzul yang menjadi dasar pendapat ini adalah ketika seorang Yahudi Madinah bernama Lubaid bin A’sham menyihir Nabi Muhammad SAW. Lubaid menyihir beliau dengan media pelepah kurma berisi rambut beliau yang rontok ketika bersisir, beberapa gigi sisir beliau, serta benang yang terdapat 11 ikatan yang ditusuk jarum. Lalu Allah menurunkan Surah Al-Falaq dan An-Nas. Diriwayatkan bahwa setiap satu ayat dibacakan, terlepaslah satu ikatan, hingga Rasulullah merasa lebih ringan, dan ketika seluruh ayat telah dibacakan, terlepaslah seluruh ikatan tersebut.
Kedua riwayat asbabun nuzul ini, meskipun berbeda konteks waktu dan tempat, sama-sama menyoroti satu tema sentral: perlindungan ilahi dari kejahatan yang tak kasat mata, baik itu sihir, pandangan jahat, maupun bisikan-bisikan merusak. Ini menunjukkan universalitas pesan Surah An-Nas dalam memberikan benteng spiritual bagi manusia.
Realitas Kekinian: Krisis Jiwa di Tengah Deru Dunia
Dalam konteks kekinian, di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, kita sering kali dihadapkan pada berbagai permasalahan yang secara fundamental bisa dijawab dengan pemahaman mendalam terhadap Surah An-Nas. Bisikan-bisikan jahat dan godaan yang disebutkan dalam surah ini tidak hanya terbatas pada sihir dalam bentuk tradisional, namun memiliki spektrum yang jauh lebih luas dan relevan dengan tantangan zaman.
Krisis Kepercayaan Diri dan Gangguan Mental:
Betapa banyak manusia saat ini yang bergulat dengan kecemasan berlebihan, depresi, dan rasa tidak aman. Bisikan-bisikan negatif dari dalam diri, keraguan, dan perasaan inferior seringkali menghantui. Ini adalah bentuk lain dari “bisikan tersembunyi” (الوسواس الخناس) yang berusaha meruntuhkan mental dan keimanan seseorang. Surah An-Nas mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari bisikan-bisikan semacam ini, yang seringkali merupakan tipu daya setan untuk melemahkan jiwa.
Serangan Informasi dan Polarisasi Sosial:
Di era digital ini, kita dibombardir dengan informasi yang menyesatkan, berita palsu (hoaks), dan narasi provokatif yang memecah belah. Bisikan-bisikan melalui media sosial yang menyebarkan kebencian, fitnah, dan permusuhan adalah manifestasi modern dari waswas al-khannas yang bersembunyi di balik layar, menggerogoti persatuan dan kedamaian hati manusia. Surah An-Nas mengingatkan kita untuk mencari perlindungan kepada Allah dari segala sumber kejahatan yang membisikkan ke dada manusia, baik itu berasal dari jin maupun manusia (yang menyebarkan kerusakan).
Tekanan Hidup dan Godaan Materialisme:
Gaya hidup konsumtif, tuntutan sosial, dan perlombaan meraih kekayaan dan status seringkali menjadi pemicu stres dan ketidakpuasan. Bisikan untuk terus mengejar dunia tanpa batas, melupakan nilai-nilai spiritual, adalah godaan halus yang bisa berasal dari syaitan jenis jin maupun manusia yang mengagungkan dunia semata. Surah An-Nas mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah sebagai Rabb, Malik, dan Ilah kita, sumber segala ketenangan dan kebahagiaan sejati.
Kerusakan Moral dan Disorientasi Nilai:
Maraknya kasus-kasus korupsi, penipuan, kekerasan, dan penyimpangan moral menunjukkan bahwa bisikan-bisikan jahat berhasil merasuk ke dalam hati manusia, memalingkan mereka dari kebaikan dan kebenaran. Ini adalah manifestasi nyata dari setan yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, mengikis iman dan moralitas. Surah An-Nas adalah panggilan untuk memohon perlindungan dari kekuatan-kekuatan gelap ini, baik yang berwujud godaan nafsu maupun pengaruh buruk dari lingkungan.
Singkatnya, Surah An-Nas adalah manuskrip ilahi yang mengajarkan kita sebuah prinsip fundamental dalam hidup: bahwa manusia senantiasa membutuhkan perlindungan ilahi dari berbagai bentuk kejahatan, baik yang bersifat fisik maupun psikis, yang nampak maupun yang tersembunyi. Ia bukan hanya bacaan yang diulang-ulang, melainkan petunjuk praktis untuk mengarungi bahtera kehidupan di tengah gelombang tantangan yang tak ada habisnya. Dengan memahami dan mengamalkan makna surah ini, kita membangun benteng iman yang kokoh, menguatkan jiwa dari segala bisikan dusta yang ingin menjerumuskan.
Tafsir Quran Surat An Nas Ayat Pertama
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ . قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Katakanlah ! Aku berlindung kepada Tuhan Manusia“. (Surat An-Naas: 1)
Kata qul (قل) yang berarti “katakanlah” membuktikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan segala sesuatu yang diterimanya dari ayat-ayat Al Quran yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Seandainya ada sesuatu yang disembunyikan, demikian Tafsir Al Misbah, yang paling wajar adalah menghilangkan kata qul ini.
Dalam Tafsir Al Azhar, Buya Hamka menerangkan, qul (قل) “katakanlah Wahai utusanKu dan ajarkanlah juga kepada mereka.”
Kata a’uudzu (أعوذ) terambil dari kata ‘audz (عوذ) yakni menuju kepada sesuatu untuk menghindar dari sesuatu yang ditakuti. Kita berlindung kepada sesuatu dari sesuatu yang kita takuti.
Allah memerintahkan kita untuk berlindung kepada Allah, karena semuanya lemah disisi Allah, bahkan syaithan sendiri. Allah bersabda :
إِنَّ كَيْدَ ٱلشَّيْطَٰنِ كَانَ ضَعِيفًا﴿٧٦﴾ . . .
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa'[4]: 76)
Tipu daya setan lemah bagi siapa ? bagi orang yang berlindung kepada Allah.
Rabb (رب) mengandung makna kepemilikan dan kepemeliharaan serta pendidikan yang melahirkan pembelaan serta kasih sayang. Dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran disebutkan, Ar Rabb adalah Tuhan yang memelihara, Yang mengarahkan, Yang menjaga dan Yang melindungi.
Kata Rabb(رب) itu banyak makna kata rabb(رب) dalam al quran itu maknanya al khaliq (الخالق) yang menciptakan, Rabb(رب) itu maknanya Ar-Razzaq (الرَّزَّاقُ) yang maha memberi rezeki. Rabb(رب) itu artinya Al Mudabbir (الْمُدَبِّرُ) yang mengatur, mengurus seluruh urusan hidup kita. Rabb(رب) itu artinya murabbi yang mendidik kita. Rabb(رب) itu artinya An Nafi’ (ٱلۡنَّافِعُ) yang artinya yang mendatangkan segala jenis manfaat, kebaikan untuk kita. Rabb(رب) itu artinya Adh-Dhaar” (الضار) yang bisa mendatangkan keburukan atau menghilangkan keburukan dari pada kita. Rabb(رب) itu artinya Al-Muhyi (المحيي) yang maha menghidupkan kita dan Raab(رب) artinya Al Mumit (المميت) yang kelak akan mematikan kita.
Maka ketika kita berlindung kepada birabbin naas (بِرَبِّ ٱلنَّاسِ) , kita seakan akan memahamkan dalam hati kita bahwa kita sedang berlindung kepada yang maha segalanya, Dialah yang maha menciptakan, maha mengatur rezeki, maha mengurus urusan hidup, maha mendidik, maha memberikan manfaat, maha menjaga kita dari keburukan, dst.
Sedangkan an nas (الناس) berarti kelompok manusia. Berasal dari kata an naws (النوس) yang berarti gerak. Ada juga yang berpendapat dari kata unaas (أناس) yang berarti tampak. Kata an nas terulang sebanyak 241 dalam Al-Qur’an. Kadang kata ini digunakan Al-Qur’an dalam arti jenis manusia seperti Surat Al Hujurat ayat 13 atau sekelompok tertentu dari manusia seperti Surat Ali Imran ayat 173
Surah An Naas Ayat Keenam Bacaan,Tafsir dan Asbabun Nuzul
Oktober 4, 2025
Tidak ada komentar
Surah An Naas Ayat Kelima Bacaan,Tafsir dan Asbabun Nuzul
Oktober 4, 2025
Tidak ada komentar
Surah An Naas Ayat Ketiga Bacaan,Tafsir dan Asbabun Nuzul
September 27, 2025
Tidak ada komentar
Surah An Naas Ayat Kedua Bacaan,Tafsir dan Asbabun Nuzul
September 24, 2025
Tidak ada komentar